Anus dan Perutnya Penuh dengan Bubble Tea ABG Perempuan Tidak Bisa Buang Air Besar Anus dan Perutnya Penuh dengan Bubble Tea ABG Perempuan Tidak Bisa Buang Air Besar - mizipediacom mizipediacom: Anus dan Perutnya Penuh dengan Bubble Tea ABG Perempuan Tidak Bisa Buang Air Besar

KATEGORI










LIVE TV

Iklan Semua Halaman

Anus dan Perutnya Penuh dengan Bubble Tea ABG Perempuan Tidak Bisa Buang Air Besar

Sunday, 9 June 2019




Mungkin sebagian dari kalangan masyarakat sudah tau minuman yang satu ini yaitu bubble tea, barang kali anda adalah salah satu orang yang sering konsumsi bubble tea ini. Hayooo jujur.? Hehe
Ok sebelum anda meninggalkan artikel ini, simak dulu yuk penjelasan berikut ini, dengan banyak membaca agar kita semakin banyak tau apa yang mereka tidak tau. Langsung saja tanpa basa basi. Cekidot...!!!
Tau kah anda bubble tea  masih terus berkembang, dan sampai sekarang belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Tak heran, banyak kedai bubble tea yang bermunculan di berbagai pusat perbelanjaan.
Meski terasa nya nikmat, ini ni yang perlu kita ketahui para ahli menyebutkan bahwa mengonsumsi bubble tea memberi efek tidak baik bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.
Kejadian baru-baru ini, seorang anak perempuan gemar mengkonsumsi bubble tea merasakan, bahwa akan lebih baik minuman itu dikonsumsi dalam ukuran sedang.
Anak perempuan tersebut berasal dari provinsi Zhejiang berusia 14 tahun.
Dia menjalani pengobatan darurat di rumah sakit lokal, Selasa (28/5/2019) setelah mengeluhkan sakit perut dan kesulitan makan dan buang air besar sembelit.
Setelah menjalani pemeriksaan CT Scan di bagian perut, dokter menemukan bahwa perut, saluran pencernaan dan anus nya tersumbat oleh bubble. Anda bisa lihat di bawah ini adalah hasil dari foto x-ray ABG perempuan tersebut.

Anus dan Perutnya Penuh dengan Bubble Tea ABG Perempuan Tidak Bisa Buang Air Besar . Kolase foto x-ray korban Bubble Tea 
Melansir laporan Sin Chew, dokter terkejut dan menanyakan gadis itu tentang seberapa sering dirinya mengonsumsi bubble tea.
Remaja perempuan itu lalu menjawab terakhir kali mengonsumsi bubble tea 5 hari lalu.
Dokter Zhang yang merawat anak itu mengatakan bahwa jumlah bubble dalam perut anak itu tidak hanya akumulasi sehari.
Yang berarti, anak perempuan itu kerap menutupi kebiasaan minum bubble tea dari orangtuanya.
Dia mengonsumsi minuman itu sehari-hari.
Dokter lalu memberikannya cairan laksatif untuk mendorong bubble yang tersumbat di perutnya.
Direktur Rumah Sakit Umum Kota Zhuji mengatakan bahwa bubble dalam bubble tea itu terbuat dari tepung kanji yang tidak mudah dicerna.
Ditambah lagi, beberapa penjual membuat adonannya lebih kenyal, yang membuatnya lebih berbahaya bagi sistem pencernaan jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebih.
Ini benar-benar menakutkan.
Apalagi dengan kita semua yang sangat menyukai bubble tea.
Biarlah kisah anak ini menjadi pelajaran, untuk tidak lagi mengonsumsi minuman itu dalam jumlah yang berlebihan.
Dilansir Epoch Times, pada 2015 juga terjadi skandal yang melibatkan mutiara di bubble dengan korbannya adalah jurnalis televisi di Provinsi Shandong.
Dari pemindaian CT, diketahui ada mutiara di perutnya.
Berdasarkan investigasi, diketahui "mutiara" tapioka itu berasal dari ban bekas serta sol sepatu.
Bubble tea sendiri sebenarnya berasal dari Taiwan dan sudah ada sejak 1980-an.
Bagaimana sejarahnya?
"Kalau di Taiwan ada dua merek yang terkenal. Dua-duanya ini mengklaim kalau mereka adalah pelopor," kata representatif dari Taiwan, John saat KompaTravel diundang menjajal enam taman bermain di Taiwan, Taichung, Selasa (10/7/2018).
Dua merek tersebut adalah Chun Shui Tang dan Hanlin Tea.
Pada situs resmi Hanlin Tea, disebutlan bahwa pendirinya bernama Tu Zonghe, membuat kreasi teh susu mutiara pertama di dunia pada 1986.
Kala itu dibuatlah bulatan dari tepung tapioka warna hitam dan putih, layaknya bundaran Yin dan Yang, lambang Taichi.

Sedangkan pada versi Chun Shui Tang, disebutkan jika sang pendiri Lin Xiuhui pada 1987, melakukan eksperimen sepulang dari pasar.
Ia membuat teh susu es, teh hitam lemon, dan mutiara dari tepung beras berwarna merah muda. Lantas jadilah bubble tea.
"Dari Taiwan ini kemudian bubble tea atau kami sebut zhenzhu naicha ini menyebar ke China daratan, lalu menyebar terus sampai ke luar negeri," kata John.
Sangat mudah menemukan gerai bubble tea di Taiwan.
Memasuki kota besar, biasanya selalu ada gerai bubble tea dengan aneka merek.
Uniknya, tidak ada merek bubble tea yang dijual di Indonesia.
"Kami lumayan sering minum bubble tea.
Tidak sehat sih kami sadar, tapi orang-orang kan suka makan yang tidak sehat," canda John.
Sedangkan tour leader kami, Vivian mengatakan dia jarang minum bubble tea.
Kalaupun minum, ia pasti mengurangi persentase gula sampai 30 persen saja.
"Buat diet, tidak minum yang manis-manis," canda Vivian.
Ia memberi tips jika ingin minum bubble tea yang sehat, pilihlah dari susu segar buka susu manis.
Namun rasa bubble tea dari susu segar tidak seenak yang susu manis.
Baca Juga