Anak Pengayuh Becak yang Menjadi Dosen Kimia di Usia 22 Tahun Anak Pengayuh Becak yang Menjadi Dosen Kimia di Usia 22 Tahun - mizipediacom mizipediacom: Anak Pengayuh Becak yang Menjadi Dosen Kimia di Usia 22 Tahun

KATEGORI










LIVE TV

Iklan Semua Halaman

Anak Pengayuh Becak yang Menjadi Dosen Kimia di Usia 22 Tahun

Saturday, 27 July 2019




Herayati asal Cilegon, Banten lulus dengan perdikat cum laude dari Institut Tekhnologi Bandung. 

Ia kemudian dipinang oleh salah satu kampus ternama di Banteng, Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta).

Walaupun berasal dari keluarga sederhana, ayahnya pengayuh becak, Heryatai berhasil mewujudkan cita-cinta sebagai dosen di usia sangat muda.

Berikut fakta tentang Herayati, anak pengayuh becak yang berhasil menjadi dosen di usia muda:

1. Hanya 10 bulan selesaikan kuliah S2 di ITB 


Perempuan yang akrab dipangil Hera tersebut mengambil program fast track di ITB dan melanjutkan kuliah S2 di sana, Hera lulus dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,8.

Dari target lulus satu tahun karena program fast track, Hera mampu menyelesaikannya dalam waktu 10 bulan saja.
itupun setengah masa kuliahnya dihabiskan di Chulalongkorn University Thailand lewat program student exchange.

2. Dosen di usia 22 tahun


Hera lahir pada 17 April 1997. Setelah SMA dia melanjutkan kuliah ke ITB. Setelah lulus S1, dia diminta mengajar ke Universitas Sultan Agung Tirtayasa.

"2018 lalu saya diminta datang ke Untirta, tapi saat itu saya baru lulus S1, sementara jadi dosen minimal S2," kata Hera, kepadaKompas.com, di kediamannya di Jalan Masigit-Sumur Menjangan, Grogol, Kota Cilegon, Banten, Rabu (24/7/2019).

Setelah menyelesaikan program fast track di ITB, Hera melanjutkan kuliah S2 dan setelah lulus ia langsung diberi amanah untuk mengabdi sebagai dosen luar biasa di Jurusan Teknik.

Dia mulai mengajar kimia dasar pada bulan September 2019 di usia yang masih muda yakni 22 tahun.
"Maunya jadi dosen tetap, tapi harus PNS, sambil menunggu penerimaan, jadi dosen luar biasa dulu sementara di teknik untuk kimia dasar, mulai ngajar bulan September ini," kata perempuan kelahiran 17 April 1997 itu.

3. Pernah gagal masuk ITB


Hera lulus dari ITB dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,8. Namun Hera mengaku pernah gagal masuk ITB di seleksi pertama lewat jalur undangan.

Tidak patah semangat, Hera mengikuti seleksi berikutnya lewat tes tertulis dan lolos di Teknik Kimia.
Menjadi bagian dari ITB adalah cita-cita Hera saat dia masih duduk SMP.

Dari target lulus satu tahun karena program fast track, Hera mampu menyelesaikannya dalam waktu 10 bulan saja.
Itu pun setengah masa kuliahnya dihabiskan di Chulalongkorn University Thailand lewat program student exchange.

4. Cari uang tambahan


Pada awal tahun kuliahnya, Hera mendapat sejumlah beasiswa, di antaranya dari program bidik misi dan bantuan dari Pemerintah Kota Cilegon.

Namun, beasiswa tersebut terkadang masih kurang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Sementara, mengandalkan kiriman dari orangtuanya juga mustahil.
Ayah Hera bekerja sebagai pengayuh becak, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga.

"Akhirnya saya cari tambahan, mulai dari jadi asisten dosen, hingga ngajar bimbel," kata dia.

5. Doa dari orang tua


Hera mengatakan kerja kerasnya selama ini tidak lepas dari dukungan kedua orangtuanya. Kendati mereka tidak mampu membiayai kuliah, dukungan dan doanya tidak pernah berhenti.

"Walaupun tidak punya, Bapak dan Mama tidak pernah melarang, walaupun diam, tapi tidak pernah bilang jangan, selalu mendukung, walaupun tidak lewat materi, tapi doanya luar biasa," kata dia.

Herayati asal Cilegon, Banten lulus dengan perdikat cumlaude dari Institut Tekhnologi Bandung.

Ia kemudian dipinang oleh salah satu kampus ternama di Banteng, Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta) untuk mengajar mata kuliah Kimia Dasar.
Sumber : KOMPAS.com (Acep Nazmudin)
Lihat Juga