Daging Anjing di Jateng : Sehari Sekitar 800 Ekor Anjing Dikonsumsi Daging Anjing di Jateng : Sehari Sekitar 800 Ekor Anjing Dikonsumsi - mizipediacom mizipediacom: Daging Anjing di Jateng : Sehari Sekitar 800 Ekor Anjing Dikonsumsi

KATEGORI










LIVE TV

Iklan Semua Halaman

Daging Anjing di Jateng : Sehari Sekitar 800 Ekor Anjing Dikonsumsi

Monday, 5 August 2019



Ilustrasi Foto : warung yang menyajikan olahan daging anjing

SEMARANG - Di sejumlah daerah di Jawa Tengah masih ditemukan warung yang menyajikan olahan daging anjing.
Warung itu ada yang menyamarkan namanya menjadi "Sate Jamu, Tongseng Gukguk, Gule We**s Balap, Warung Gukguk" dan lain-lain.
Beberapa hari lalu viral Bupati Karanganyar, Juliyatmono meminta para pemilik olahan daging anjing menutup warungnya menuai banyak pujian dari aktivis pecinta binatang.
Pemkab Karanganyar akan mengajak para pengusaha kuliner sate jamu atau olahan daging anjing berembuk sekaligus memberikan modal untuk beralih usaha.
Bupati menyatakan, mencegah jauh lebih penting, dan menyiapkan generasi jauh lebih penting.
Anjing bukan binatang ternak yang lazim dikonsumsi masyarakat dan tidak dikembangbiakkan. 
Ia mengatakan, anjing dipelihara untuk hal tertentu, misalnya untuk bantu melacak, atau sebagai penjaga rumah.
"Tapi kan harus dijaga kesehatannya. Karena penyakit yang diakibatkan oleh anjing itu mengkhawatirkan, apalagi kalau liar. Juga menyebabkan masyarakat tidak nyaman.
Apalagi dikonsumsi melalui warung terbuka, akhirnya juga disamarkan, sate jamu, sate wedus balap. Kami yakin mereka tidak punya izin usaha," kata Bupati Juliyatmono.
Ditinjau dari sisi kesehatan, olahan daging anjing dikhawatirkan menyebarkan penyakit rabies.

Penyakit ini merupakan golongan zoonosis atau penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya.
Virus penyakit mematikan yang disebut belum ada obatnya ini menyerang sistem syaraf.
Utamanya ditularkan dari air liur hewan rabies dengan gigitan atau cakaran.
Hewan yang bisa terkontaminasi dan menyebarkan virus rabies antara lain anjing, kucing atau kera.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menyebutkan jika daging anjing diolah secara baik, secara medis tidak bisa dijadikan sarana penyebaran rabies.
Oleh karena itu, potensi penularan rabies justru tinggi pada kelompok masyarakat yang mengolah atau menangani anjing terinfeksi rabies, seperti penjagal dan penjual anjing.
Sejumlah 'rumah pemotongan hewan anjing' masih melakukan kegiatan secara diam-diam.
Seperti yang dilakukan seorang warga di Gilingan Kecamatan Banjarsari Solo.
Seorang pria yang tak bersedia disebutkan namanya, tiap hari bisa mengolah dua-tiga anjing.
Olahan yang dimaksud yakni dari anjing hidup hingga siap menjadi masakan.

Oni, nama samaran, biasa mengeksekusi anjing di belakang rumahnya.
Belakang rumahnya persis terdapat sungai yang bisa dipakainya membuang jeroan atau isi perut anjing.
"Dijual sendiri dan dijual ke orang lain," kata Oni ketika ditanya pemasaran setelah proses olahan daging anjing.
Ketika ditemui, dia tengah membakar bulu halus anjing dengan menggunakan alat seperti peralatan las yang mengeluarkan api di ujungnya.
Timbul bau gosong menyengat.
Setelah membakar satu bagian tubuh, dia menggosoknya pakai cetok supaya bulu halus rontok.
Tidak ada luka sembelihan di tubuh anjing yang berwarna hitam legam itu.
Oni membuat tubuh tak berdaya itu dengan cara memukulnya di bagian kepala. Bukan disembelih.
"Diketok (dipukul) sekali saja, keras, cukup. Langsung mati. Nggak perlu berkali-kali," terangnya.
Untuk mematikan, dia mengikat anjing terlebih dahulu kemudian memasukannya ke dalam karung.

Kemudian, mencari sasaran yakni bagian kepala. Kepala anjing dipukul pakai stik kayu.
Menurut Oni, jika pengolahan anjing dengan cara disembelih seperti halnya kambing atau sapi itu akan mempengaruhi citarasa dari daging tersebut, daging tidak enak.
Terlebih lagi darah yang dikeluarkan akan muncrat berceceran.
Karena itu, dia harus bisa mematikan anjing tanpa darah berceceran.
Pekerjaan itu sudah dilakoninya belasan tahun yang lalu.
Ia mendapatkan anjing untuk diolah menjadi makanan dari seorang teman yang merupakan pengepul anjing.
"Tidak tahu darimana anjingnya. Saya dapat dari teman (pengepul)," kata Oni.
Menurutnya, anjing yang dimatikan itu tentu saja anjing khusus konsumsi.
Bukan anjing peliharaan seperti pitbul, herder, pudel dan sebagainya.
Ketika ditanya bahaya penyakit rabies yang bisa saja menyerangnya saat menangani anjing, dia menanggapinya agak cuek.
"Lha wong sudah kayak gini dari dulu, mau kerja apa lagi?" ucapnya.
Meskipun demikian, dia tetap memilah dan memilih anjing yang hendak diolah.
Jika dari tampak fisik, anjing sudah kelihatan tidak sehat, kucel, dan kotor dia pun enggan membeli atau menerimanya dari pengepul.
Dia juga mempunyai warung masakan daging anjing di sekitar Terminal Tirtonadi Solo.
Menurutnya, pelanggan yang mampir ke warungnya ada yang memang berharap untuk kesembuhan penyakit asmanya, ada juga untuk tujuan lain.
"Ya katanya bisa ngobatin asma. Ada juga yang beli buat surungan (sajian makanan bersama miras)," imbuhnya.
Editor: Catur waskito Edy

Sumber: Tribun Jateng
Lihat Juga