Awalnya dia bekerja sebagai tukang bangunan. Merasa penghasilannya kurang, Bustamam mulai terpengaruh oleh teman-temannya untuk berjualan ganja. Dalam bisnis inilah ia bertemu dengan Tarmizi. Ganja yang mereka jual berasal dari Myanmar yang dipasok melalui Thailand.
Pada suatu hari di tahun 1996, mereka mendapat pesanan ganja dalam jumlah besar. Setelah adanya kesepakatan, pada suatu malam keduanya pun bertemu dengan pembeli tersebut. Namun saat akan bertransaksi dalam mobil pembeli, kedua remaja ini menyadari ternyata calon pembeli itu merupakan Polisi Malaysia yang sedang menyamar.
Bustamam tak berkutik saat pistol ditodongkan ke kepalanya. Sedangkan Tarmizi yang saat itu berusia 23 tahun sempat melawan petugas dan berusaha kabur. Akhirnya satu tembakan dilepaskan ke kaki Tarmizi sehingga dia pun pun tak berdaya. Sementara Sulaiman ditangkap di rumahnya di Kuala Lumpur pada 2004 lalu. Ketika ditangkap ia tak bisa berbuat apa-apa karena sedang membungkus-bungkus ganja untuk dipasarkan. Sulaiman langsung digiring ke hadapan hakim.
Meskipun ketiganya sudah dijatuhi hukuman mati dan bersiap dihadapkan ke tiang gantungan, ketiganya masih berusaha melayangkan pengampunan ke Mahkamah Agung-nya Malaysia. Ternyata dibalik itu, Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono juga sempat meminta pengampunan kepada Kerajaan Malaysia terhadap sejumlah WNI yang akan dihukum mati.
Pada 2012 lalu, keluarlah pengampunan dari Kerajaan Malaysia dari sebelumnya hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup. Ketiganya kembali berusaha mengajukan pengampunan, dan pada 2019 mereka diampuni dan dibebaskan. Mereka bertiga bisa kembali pulang ke Aceh setelah difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, KBRI Malaysia, dan Dinsos Aceh.
Kepala Dinsos Aceh, Alhudri mengatakan, ketiganya diampuni oleh Kerajaan Malaysia karena berkelakuan baik selama dalam penjara. “Mereka rajin datang ke acara tausyiah dan tidak pernah meninggalkan shalat,” ujarnya.
Alhudri mengaku mendapatkan mendapat perintah dari Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, untuk memfasilitasi pemulangan ketiga warga Aceh tersebut. Pemulangan dimulai dari Kuala Lumpur ke Jakarta, lalu Jakarta dan Banda Aceh. “Hari ini Dinsos Aceh akan mengantar ketiganya ke kampung halaman masing-masing untuk bertemu keluarga,” demikian Alhudri.
Ada cerita menarik saat Bustamam, Tarmizi, dan Sulaiman tiba di Banda Aceh, Kamis (8/8). Begitu tiba, mereka dibawa menyantap kuliner Aceh, melihat Masjid Raya Baiturrahman, hingga membeli baju baru di Suzuya Mall Banda Aceh.
Saat belanja di Suzuya, diketahui bahwa mereka ternyata sudah tidak kenal lagi dengan mata uang Rupiah. Mereka terlihat kebingungan saat akan membayar baju yang dibeli dan akhirnya meminta bantuan pada staf Dinas Sosial (Dinsos).
"Setelah memilih baju untuk dibeli, mereka minta ke staf kami untuk dibayarkan karena mereka tidak tahu lagi dengan uang rupiah," ujar Kepala Seksi (Kasi) Perlindungan Sosial Dinsos Aceh, Rohaya Hanum kepada Serambi kemarin.
Usai membeli baju baru, mereka selanjutnya akan diantar ke kampung halamannya di Bireuen untuk berkumpul lagi bersama keluarga masing-masing. Ketiganya mengaku jera menjadi bandar narkoba dan berjanji tidak akan mendekati barang haram itu lagi. Mereka sudah merasakan pahitnya terkurung bertahun-tahun di jeruji besi.
Bustamam misalnya, sudah menghabiskan hampir setengah usianya di dalam penjara, yaitu 23 tahun, sejak ditangkap pada 1996 dan bebas pada 2019. Kerasnya kehidupan penjara dan tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga hingga puluhan tahun benar-benar membuat Bustami dan kawan-kawan kapok, apalagi sebelumnya sempat dihadapkan pada tiang gantungan.
Dan yang paling menyedihkan, mereka juga tak bisa datang ketika beberapa anggota keluarganya meninggal dunia dan mengantar jenazahnya ke pemakaman. Sulaiman mengaku sempat dijenguk oleh abangnya saat di penjara Malaysia. Rupanya itu menjadi pertemuan terakhir karena beberapa tahun kemudian abangnya meninggal dunia.
Selama di penjara, meskipun diperlakukan dengan sangat baik, mereka tetap merasa tersiksa karena harus makan apa adanya dan menyimpan rasa rindu terhadap kampung halaman. "Kami waktu makannya dikasih ikan yang tak ada tulang, dikasih ayam yang tak ada tulang, mana ada enak. Karena mereka takut kalau kami bunuh diri dengan tulang itu, waktu itu kan kami sudah kena hukuman mati," ungkap Bustamam.(mun)
Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia