UAS Dituduh Menghina Patung Yesus Dan di Laporkan Ke Polisi UAS Dituduh Menghina Patung Yesus Dan di Laporkan Ke Polisi - mizipediacom mizipediacom: UAS Dituduh Menghina Patung Yesus Dan di Laporkan Ke Polisi

KATEGORI










LIVE TV
HOMEPAGE ARTIKEL SEDANG DALAM PERBAIKAN

Iklan Semua Halaman

UAS Dituduh Menghina Patung Yesus Dan di Laporkan Ke Polisi

Wednesday, 21 August 2019



Ribuan umat muslim menghadiri Tabligh Akbar yang diisi oleh Ustad H Abdul Somad  (UAS) di Masjid Agung Medan, Jalan Pangeran Diponegoro, Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia, Selasa (20/8/2019).
Sebelum Tabliq Akbar dimulai ribuan masyarakat sudah memenuhi halaman luar masjid untuk melaksanakan salat Dzuhur berjamaah.
Badan Kesejahteraan Masjid Agung Medan dan panitia pembangunan Masjid Agung Medan sengaja menghadirkan Ustadz Abdul Somad guna untuk menggugah hati jemaah yang berada di Kota Medan untuk membantu meringankan pembangunan Masjid Agung.
Ustadz Abdul Somad mengawali ceramahnya dengan mengibaratkan sistem pemerintahan sebagai sebuah tiang kokoh yang terdiri dari besi, batu bata, semen, kerikil, dan cat.
" Coba perhatikan tiang ini baik-baik, kenapa kita bisa berdiri tegak, jangan lupa di dalamnya ada besi sebagaimana pemimpin di Sumatera Utara."
"Tapi besi tidak bisa berdiri sendiri Ia musti dibantu oleh batu kerikil siapakah itu?
Itulah Gubernur Sumut dan Wakil Gubernur Sumut yang menyatukan kerikil dan besi adalah semen.
Semen itu adalah ulama maka kalau yang kedua ini baik, negeri ini menjadi baik," katanya.
Meski demikian, kata Ustadz Abdul Somad, semen, kerikil, batu bata, dan lainnya tidaklah terlihat sehingga mereka kuat. Dan yang terlihat adalah cat tembok yang kerap mendapatkan goresan karena berada di luar.
"Semen tak nampak, kerikil tak nampak, batu juga tak nampak, tapi yang telihat itu yang paling lemah yaitu cat, yang di hadapan kalian ini yang paling lemah, yang digesek dan dicoret," katanya
Ia pun mengaitkan kasus yang sedang menimpanya, dan menjelaskan bahwa ceramahnya saat itu dilaksanakan di masjid dan di tengah umat muslim.muslim.
Tak takut kah Abdul Somad? Apa yang kutakutkan sebanyak ini yang membela?"
"Ya, dalam masjid.
Kalau di luar nanti? Ngeri-ngeri sedap juga kurasa," katanya sambil tertawa.
Ia pun memberikan ceramah kepada masyarakat agar senantiasa ringan saat berbagi, jangan perhitungan.
"Andai Abdul Somad hilang, andai Abdul Somad lenyap, Andai Abdul Somad mati, 1.000 Abdul Somad akan hadir dari Sumatera Utara."
" Oleh sebab itu, harmonis ini harus tetap terjaga, semen, kerikil, batu bata, pasir, cat mereka berjasama maka berdirilah masjid yang gagah ini, Masjid Agung Sumatera Utara," katanya.
Ustadz Abdul Somad (UAS), dilaporkan organisasi kemasyarakatan, Brigade Meo Nusa Tenggara Timur ( NTT) ke Polda NTT, Sabtu (17/8/2019) siang dan Organisasi masyarakat Horas Bangso Batak (HBB) ke Polda Metro Jaya, Senin (19/8/2019).
Laporan Brigade Meo Nusa Tenggara Timur ( NTT) terdaftar dalam nomor LP/B/290/VIII/RES.1.24/2019/SPKT Polda NTT, terkait video ceramah UAS yang dinilai menyinggung agama lain.
Sedangkan laporan Organisasi masyarakat Horas Bangso Batak (HBB) atas kasus dugaan kejahatan terhadap ketertiban umum, terdaftar dalam nomor laporan polisi LP/5087/VIII/2019/PMJ/Dit. Reskrimum tanggal 19 Agustus 2019.
Tokoh masyarakat Sumut, Dr RE Nainggolan angkat bicara soal ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS).
Meski diakui menimbulkan kegelisahan dan keprihatinan bagi beberapa kalangan, ceramah kontroversioal Ustadz Abdul Somad (UAS) yang menyinggung salib dianggap tidak perlu sampai dibawa ke ranah hukum.
"Kita memahami ini menimbulkan keresahan. Kita juga prihatin, tentu saja, karena sedikit banyak telah memancing kegaduhan dan kontroversi.
Akan tetapi, iman Kristen sejati tidak akan terganggu dengan hal-hal semacam itu," kata RE Nainggolan saat ditanya wartawan di Medan, Selasa (20/8/2019).
Sekdaprovsu 2008-2010 ini mengingatkan, saat ini kita sedang fokus merajut kembali jalinan kebangsaan yang seperti tercerabut akibat dinamika politik yang begitu intens beberapa tahun belakangan.
"Energi kita benar-benar terkuras, tetapi hal-hal seperti ini selalu saja kembali memancing kita untuk reaktif.
Saya kira, mari kita kedepankan kearifan dan kebesaran hati.
Jadilah pengikut Kristus yang sejati, yang senantiasa mengedepankan kasih dan pengampunan," kata RE Nainggolan.
Menurut pria yang pernah menjadi Ketua Umum Perayaan 50 tahun Dewan Gereja-gereja Asia dan Jubileum 150 Tahun HKBP ini semua pihak harus melakukan upaya terbaik untuk menghapuskan pasal-pasal karet penodaan agama ini.
"Ini menjadi duri dalam daging, penghambat langkah kita untuk terus maju sebagai bangsa, unggul dalam SDM, teladan dalam peradaban dunia," kata RE Nainggolan RE Nainggolan.
Di sisi lain, RE Nainggolan yang pernah didaulat sebagai tokoh lintas beragama itu juga mengingatkan agar semua pihak, terutama figur publik, para key opinion leaders, lebih berhati-hati dan arif dalam mengeluarkan pernyataan.
"Kita hidup di sebuah era tanpa batas dan sekat. Kini batas antara ruang privat dan publik sudah semakin kabur. Di semua tempat kamera-kamera ponsel siaga merekam apa pun ucapan dan perbuatan kita, dan dalam sekejap, bisa saja menjadi konten yang tersebar luas," kata RE Nainggolan.
Ketika ditanya, apakah semua kegaduhan ini merupakan sebuah grand design yang ingin mengacaukan kerukunan bangsa, RE Nainggolan tidak mau berandai-andai.
"Itu asumsi dan spekulasi. Faktanya, hal-hal semacam ini masih terus kita hadapi, dan oleh karenanya semua pihak harus tetap waspada, mengedepankan prasangka baik, demi terjaganya tenun kebangsaan kita," kata RE Nainggolan.
Menurut RE Nainggolan, saat ini bangsa sedang berada di jalur yang tepat dan benar menuju kemajuan dan keunggulan SDM.
"Kita fokus ke sana saja, jangan buang energi yang tidak perlu.
Selain melelahkan, semua kegaduhan itu pun sia-sia saja," kata RE Nainggolan. 

RE Nainggolan juga mengimbau agar pihak-pihak yang melaporkan UAS untuk mempertimbangkan kembali langkah itu.
"Tentu itu hak mereka sebagai warga negara. Kita juga sepakat, bahwa hukum adalah panglima.
Saya sendiri juga bisa memahami kegelisahan dan keresahan mereka.
Akan tetapi, sekali lagi, bangsa menuntut kita lebih dari sekadar itu.
Ingatlah inti ajaran Yesus adalah kasih dan pengampunan," pungkas RE Nainggolan. 

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Lihat Juga