Rp 86 Triliun Uang Berputar dalam Bisnis Narkoba di Aceh Rp 86 Triliun Uang Berputar dalam Bisnis Narkoba di Aceh - mizipediacom mizipediacom: Rp 86 Triliun Uang Berputar dalam Bisnis Narkoba di Aceh

Iklan Semua Halaman

Rp 86 Triliun Uang Berputar dalam Bisnis Narkoba di Aceh

Wednesday, 18 September 2019



loading...
Ilustrasi Fotu Sabu
Laporan Yarmen Dinamika l Banda Aceh
BANDA ACEH - Kepala Badan Nasional Pemberantasan Narkoba Provinsi (BNNP) Aceh, Brigjen Pol Drs Faisal Abdul Naser MH mengungkapkan bahwa sekitar Rp 86 triliun setiap tahunnya uang berputar dalam bisnis narkoba di Aceh.
Brigjen Faisal menyebut angka itu sebagai potensi "aset bank yang hilang", karena uangnya memang tidak disimpan bandar narkoba di bank supaya bisnis haramnya tidak ketahuan atau tidak terendus oleh aparat penegak hukum.
Hal itu disampaikan Brigjen Pol Faisal Abdul Naser saat presentasi pada Lokakarya Antinarkoba di Aula Balai Kota Banda Aceh, Selasa (17/9/2019).
Lokakarya bertema 'Aceh Lampu Merah Narkoba' itu digelar Forum Komunikasi Pemerintahan Kabupaten dan Kota Se-Aceh (Forum KKA) yang dikoordinatori Bupati Bireuen, H Saifannur SSos.
Sebagian besar bupati/wakil bupati, wali kota/wakil wali kota, serta ketua dan wakil ketua DPRK se-Aceh hadir dalam lokakarya tersebut untuk membahas upaya pemberantasan narkoba berdasarkan undang-undang yang berlaku, hukum adat, dan kearifan lokal.
Lokakarya yang dimoderatori Yarmen Dinamika, Redaktur Eksekutif Harian Serambi itu juga dihadiri pihak Kodam Iskandar Muda, Polda Aceh, BNK kabupaten/kota, MPU, MAA, akademisi, dan tokoh masyarakat.
Menurut Brigjen Faisal Abdul Naser, angka Rp 86 triliun yang berputar dalam bisnis narkoba di Aceh itu ia minta hitung kepada pihak Bank Indonesia Perwakilan Aceh.
"Setelah dihitung, didapat angka yang fantastis seperti itu," ujar Faisal.
Faisal mengungkapkan bahwa Aceh kini bukan lagi merupakan daerah transit narkoba, melainkan sudah merupakan daerah tujuan narkoba.
Aceh menjadi pintu gerbang masuknya narkoba dari luar negeri.
Banyak yang dikonsumsi di Aceh, selebihnya didistribusikan ke Sumatera Utara hingga Pulau Jawa dan Bali.
Kata Faisal, narkoba, khususnya sabu-sabu yang masuk ke Aceh umumnya berasal dari Malaysia dan Thailand.
Dibeli di sana dengan harga antara Rp 300 juta hingga Rp 600 juta per kilogram, lalu dijual di Aceh dengan harga Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar per kilogram.
"Itu pun setelah dioplos, sabunya ditambahi tawas. Saat dikonsumsi malah lebih berbahaya merusak sel saraf. Tapi anehnya, harga jualnya di Aceh malah lebih tinggi," ujar Faisal.
Menurut Faisal, dibanding di Malaysia dan Thailand hanya di Aceh sabu diperjualbelikan dalam porsi yang sangat murah.
Ada yang dijual dalam paket Rp 50.000 bahkan Rp 30.000. Itu sebab, anak remaja dan pelajar pun mampu membelinya.
Akibat meluasnya peredaran dan penyalahgunaan narkoba, terutama sabu-sabu dan ekstasi di Aceh, sehingga saat ini jumlah warga Aceh yang terpapar narkoba mencapai 38.493 orang (1,8 persen dari total penduduk Aceh.
Selain itu, tercatat 5.418 orang jumlah narapidana narkoba di LP-LP dan rutan di Aceh.
Dari jumlah tersebut, 3.746 orang di antaranya pengedar, 1.672 orang pengguna.
Sangat sedikit di antara pengguna yang berhasil direhabilitasi karena Aceh tak mempunyai pusat rehabilitasi khusus korban narkoba.
Brigjen Faisal menilai mendesak kehadiran pusat rehabilitasi narkoba di Aceh, bahkan harus ada di sejumlah regional.
Saran Faisal ini didukung oleh Bupati Aceh Tamiang Mursil MKn dan Wali Kota Langsa, Usman Abdullah.
Forum juga mendukung saran Dr Adli Abdullah yang merekomendasikan perlunya penguatan pranata adat dan local wisdom untuk menangkal masuknya narkoba ke desa-desa di Aceh.
Adli juga memandang perlu pelibatan panglima laot se-Aceh untuk menangkal masuknya narkoba dari jalur laut di Aceh, mengingat saat ini terdapat sedikitnya 29 pintu masuk narkoba dari jalur laut ke Aceh.
"Narkoba di Aceh sudah sangat merusak seluruh lapis usia. Oleh karenanya, mari kita jihad melawan narkoba," ujar Adli.
Lokakarya yang dihadiri 150 peserta itu dibuka Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT yang diwakili Kepala Kesbangpol Aceh, Drs Mahdi Effendi.
Plt Gubernur Aceh menginstruksikan perang melawan narkoba harus dikobarkan di seluruh penjuru Aceh dengan melibatkan semua komponen masyarakat. (*)
Penulis: Yarmen Dinamika
Editor: Hadi Al Sumaterani
Sumber: Serambi Indonesia
Baca Juga

loading...